Nama Produk :
DALIL KESUNNAHAN_ DZIKIR TAHLILAN 7 HARI, HARI KE-40, 100 DAN 1000
Deskripsi Singkat :
Pengiriman :
JNE Reguler, J&T Express, WAHANA, POS Ind., TIKI
Deskripsi Produk:
🙏 *Assalamu'alaikum Wr. Wb..*
=================== *_R.j_*
🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃
*_DALIL KESUNNAHAN_ DZIKIR TAHLILAN 7 HARI, HARI KE-40, 100 DAN 1000*
💦🌾💦🌾💦🌾💦🌾💦
*_WAHABI:_* “Anda *harus meninggalkan Tahlilan 7 hari, hari ke 40, 100, dan ke 1000.* Kalau tidak anda akan masuk *_neraka.”_*
*SUNNI:* “Apa alasan Anda mewajibkan kami meninggalkan Tahlilan tujuh hari, hari ke-40, 100 dan 1000?”
*_WAHABI:_* “Karena itu *tasyabbuh* dengan orang-orang Hindu. Mereka orang *kafir.* Tasyabbuh dengan kafir berarti kafir pula.”
*SUNNI:* “Owh, itu karena Anda *baru belajar ilmu agama.* Coba Anda belajar di *Pesantren Ahlussunnah Wal-Jama’ah,* Anda tidak akan bertindak *_sekasar_* ini. Anda pasti malu dengan tindakan Anda yang kasar, dan sangat tidak Islami. *Ingat, Islam itu mengedepankan akhlaqul karimah, budi pekerti yang mulia*. Bukan sikap kasar seperti Anda.”
*_WAHABI:_* “Kalau begitu, menurut Anda acara *Tahlilan* dalam hari-hari tersebut bagaimana?”
*SUNNI:* “Justru acara *dzikir Tahlilan pada hari-hari tersebut hukumnya SUNNAH,* agar kita *_berbeda_* dengan Hindu.”
*_WAHABI:_* “Mana *dalilnya?* Bukankah pada hari-hari tersebut, orang-orang Hindu melakukan *kesyirikan.”*
*SUNNI:* “Justru karena pada hari-hari tersebut, orang *Hindu melakukan kesyirikan dan kemaksiatan,* kita *_lawan_* mereka dengan melakukan *Kebajikan, dzikir bersama kepada Allah subhanahu wa ta’ala,* dengan *_Tahlilan._* Dalam *kitab-kitab hadits* diterangkan:
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:ذَاكِرُ اللهِ فِي الْغَافِلِيْنَ بِمَنْزِلَةِ الصَّابِرِ فِي الْفَارِّيْنَ. (رواه الطبراني في الكبير والأوسط، وصححه الحافظ السيوطي في الجامع الصغير).
“Dari *_Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,_ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:* “Orang yang berdzikir kepada Allah di antara kaum yang lalai kepada Allah, sederajat dengan orang yang sabar di antara kaum yang melarikan diri dari medan peperangan.” *(HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [9797] dan al-Mu’jam al-Ausath [271]. Al-Hafizh al-Suyuthi menilai hadits tersebut shahih dalam al-Jami’ al-Shaghir [4310]).*
Dalam acara *tahlilan selama tujuh hari kematian, kaum Muslimin berdzikir kepada Allah,* ketika pada hari-hari tersebut *_orang Hindu melakukan sekian banyak kemungkaran._* Betapa indah dan mulianya *tradisi tahlilan* itu.
*_WAHABI:_* “Saya *tidak menerima alasan dan dalil Anda.* Bagaimanapun dengan Tahlilan pada 7 hari kematian, hari ke-40, 100 dan 1000, kalian *berarti menyerupai atau tasyabbuh dengan Hindu, dan itu tidak boleh.”*
*SUNNI:* “Itu karena Anda *tidak mengerti maksud tasyabbuh.* *_Tasyabbuhz itu bisa terjadi, apabila *perbuatan yang dilakukan oleh kaum Muslimin pada hari-hari tersebut "PERSIS" dengan apa yang dilakukan oleh orang Hindu.* Kaum Muslimin *Tahlilan.* Orang Hindu jelas *_TIDAK Tahlilan_*. Ini kan *BEDA*.”
*_WAHABI_*: “Tapi penentuan waktunya kan sama?”
*SUNNI:* “Ya ini, karena *Anda baru belajar ilmu agama.* *_Kesimpulan hukum_* seperti Anda, yang mudah *mengkafirkan* orang karena kesamaan soal waktu, *_bisa berakibat mengkafirkan_ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”*
*_WAHABI_*: “Kok bisa berakibat *mengkafirkan* Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”
*SUNNI:* “Anda harus tahu, bahwa *kesamaan waktu itu tidak menjadi masalah, selama perbuatannya beda.* Coba Anda perhatikan *hadits ini:*
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ يَوْمَ السَّبْتِ وَيَوْمَ اْلأَحَدِ أَكْثَرَ مِمَّا يَصُومُ مِنْ اْلأَيَّامِ وَيَقُولُ إِنَّهُمَا عِيدَا الْمُشْرِكِينَ فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أُخَالِفَهُمْ. (رواه أحمد والنسائي وصححه ابن خزيمة وابن حبان).
*_Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha_* berkata: *“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam* selalu berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad, melebihi puasa pada hari-hari yang lain. *Beliau bersabda*: “Dua hari itu adalah *_hari raya orang-orang Musyrik,_* aku senang menyelisihi mereka.” *(HR. Ahmad [26750], al-Nasa’i juz 2 hlm 146, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).*
Dalam hadits di atas jelas sekali, karena pada hari *Sabtu dan Ahad*, kaum Musyrik menjadikannya *hari raya,* maka *Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,* menyelisihi mereka dengan *berpuasa.* *_Sama dengan kaum Muslimin Indonesia._* Karena orang Hindu mengisi hari-hari yang Anda sebutkan dengan *kesyirikan dan kemaksiatan,* yang merupakan penghinaan kepada *_si mati,_* maka kaum Muslimin *_mengisinya_* dengan *dzikir Tahlilan, sebagai penghormatan kepada si mati.*
*_WAHABI_*: “Owh, iya ya.”
*SUNN*I: “Saya ingin tanya, Anda tahu dari mana bahwa hari-hari tersebut, asalnya dari *Hindu?”*
*_WAHABI_*: “Ya, baca *Kitab Weda,* kitab sucinya Hindu.”
*SUNNI:* “Alhamdulillah, kami kaum Sunni *tidak pernah baca kitab Weda.”*
*_WAHABI:_* “Awal mulanya sih, ada *muallaf* asal Hindu, yang menjelaskan masalah di atas, sering *kami undang ceramah pengajian kami.* Akhirnya kami lihat Weda.”
*SUNNI*: “Itu kesalahan Anda, orang Wahabi, yang *_lebih senang belajar agama kepada muallaf,_* dan gengsi belajar agama kepada *para Kiai Pesantren yang berilmu*. Jelas, ini termasuk *bid’ah tercela.*”
*_WAHABI:_* “Terima kasih ilmunya.”
*SUNNI:* “Anda dan golongan Anda *_tidak melakukan Tahlilan, silahkan._* Bagi kami tidak ada persoalan. Tapi *Jangan coba-coba menyalahkan kami yang mengadakan dzikir Tahlilan.”*
* *MoHoN diSEBARkn*
======= *_R.j_* ======
Bagikan ke :
Mulai Belanja di kios santri
Temukan Kami di FACEBOOK
Temukan Kami di Bukalapak
Temukan Kami di INSTAGRAM
Temukan Kami di SHOPEE
Temukan Kami di TOKOPEDIA